JAKARTA NIGHTLIFE - Buat warga DKI selamat sebentar lagi menuju kota yang bersyariah. Selamat juga buat partai PKS & GERINDRA dan ...

Senyum Tipis Presiden Joko Widodo Atas Kemenangan Anies - Sandiaga


JAKARTA NIGHTLIFE - Buat warga DKI selamat sebentar lagi menuju kota yang bersyariah. Selamat juga buat partai PKS & GERINDRA dan selamat tersenyum selebar-lebarnya untuk Fahri Hamzah & Fadli Zon. Selamat maraknya sweeping di ibu kota Jakarta. Sampi bertemu lagi diperjuangan selanjutnya. Buat gue yang selalu bilang TIDAK sama isu SARA.

Sekali lagi selamat buat Anies - Sandiaga. Semoga bisa rawat keberagaman dan bisa meloloskan sandera politik islam. (tapi kayaknya buat yang ini panggang jauh dari api, lama matengnya). Kalau gue ngeliat Pilkada DKI kemarin, isu SARA yang cepat laku bakal tetap mewarnai sampai pilpres 2019 nanti, dan bakal lebih banyak demo-demo lagi, dan Pak Jokowi akan kembali dituduh Komunis lagi.

Gue tinggal di negara yang cukup luarbiasa. Khususnya JAKARTA. Mistik tetap jadi lebih penting ketimbang rasio. Rasanya pengen pipis ditembok Apartemen, karena cuma ini yang paling polos dan gratis tanpa DP. Sebagian pendukung Pak Ahok, justru bahagia sama kekalahannya. Salah satu penyebabnya karena dapat mereda gelombang amuk massa fundamentalis. Pak Ahok sendiri bagaikan pejuang ala Yesus (versi umat kristen) berkorban buat keseimbangan kemaslahatan umat.

Posisi Pak Ahok emang berat, jadi minoritas, demo berkali-kali, masuk pengadilan, dibully, di cap china kafir, kaum komunis, disebut penista dan lain-lain. Semuanya malah bikin dia bersyukur sambil berkata : "selamat untuk Anies"

Kalau lo pada ingat jaman dulu ada gubernur DKI dari keturunan tiong hoa juga. Non muslim dan non Jawa, namanya Henk Ngantung yang ditunjuk sama presiden Soekarno. Nggak sedikit juga yang nolak keberadaannya. Kemudian di era Orde baru, waktu itu platform partai & militer keliatan lemah, dominasi juga memainkan isu SARA (agama) dalam pelanggengan kekuasaan. Hal-hal kayak gini udah jadi lagu klasik yang diputar di saat tertentu di Nusantara.

Kalau dilihat pertarungan ini seperti poin 1:1. Kaum sekuler ataupun nasionalis menang Pilpres 2014, kaum fanatik agama ataupun fundamentalis udah menangin Pilkada DKI 2017. Udah pasti bakalan lebih seru lagi di tahun 2019. Tapi gimanapun itu yang menang tetap bangsa Indonesia, yang menang tetap rakyat kalau bicara demokrasi.

Indonesia, Negara Politik Atau Negara Agama ?


Anies, pernah jadi bagian dari Jokowi, juru bicara waktu kampanye Pilpres 2014 dan jadi menteri pendidikan di kabinet kerja. Hal ini bisa menguntungkan mantan para jendral dan prabowo di 2019 nanti dengan tetap bawa kaset lagu yang sama yaitu isu Sara, primordial, plus tumbuhnya komunis baru, yang bakal dibesut sama PKS bersama ormas keagamaan yang fundamental. Disisi lain para aktivis reformasi yang gagah berani udah jual diri dan idealisnya di anggota dewan, terus udah ngerasa nyaman dalam karir politiknya. Nggak ketinggalan, para mahasiswa udah diasyikan dengan gadget digenggamannya.

Buat mereka yang tidak suka rezim hari ini bilang problem terbesar saat ini adalah komunisme gaya baru, dan sejarah mencatat perseteruan "Kom" dengan militer dibawah komando soeharto membuahkan karya pembunuhan massal di tahun 65. Udah pasti mantan militer nggak mau di salahin dan diadili dalam masalah ini. Sementara Jokowi adalah ancaman buat mereka karena akan dapat mengungkap kebohongan sejarah di era Orde baru. Ironisnya kalau gue denger kata "rakyat bersatu tak bisa dikalahkan" di Nusantara cuma jadi nyanyian yang didengar dalam sunyi.

Belakangan ini banyak banget aksi massive yang mustahil kalau nggak ada dalang dibelakangnya yang jago main taktik dan strategi. Jadi pertanyaan kita sebelum bahas tentang "begitu sulitkah negara untuk bubarkan ormas radikal?" Yang ada malah kebalikannya, ormas-ormas radikal yang nggak manusiawi dipelihara dan dibiarkan. Kasus-kasus yang udah mereka buat seperti iklan produk lama yang sebentar-sebentar hilang gitu aja. Akhir-akhir ini sebut aja nama Rizieq Shihab, bagaikan hilang ditelan bumi. Sementara kita nggak tau dibelakang tirai seperti apa kejadian yang sebenarnya. Liat aja nama SBY hilang seketika yang mana sebelumnya sempat meledak dengan kata "lebaran kuda".


Pilkada Jakarta ini cuma skenario kecil buat mereka, proyek besarnya tetap satu, melengserkan kekuasaan hari ini yaitu Jokowi. Mungkin mereka merasa sedikit agak lega untuk sekarang karena tembok yang menjadi penghalang mereka saat ini udah mereka kalahin yaitu Basuki atau Ahok. Jadi inget masa-masa pelengseran Soekarno dulu, dimana orang-orang dekatnya piawai bermain muka dan nusuk dibelakang. Waktu itu pengkudetaan Soekarno yang akhirnya diambil alih Soeharto, masa aksi pun digerakkan oleh mahasiswa yang sebut diri mereka sebagai KAMI dengan tuntutan trikora. Waktu itu Soe Hok Gie lah yang menjadi salah satu mahasiswa yang ngeliat banyak kejanggalan, sementara teman-temannya udah duduk dikursi empuk pemerintahan Soeharto. Gie ngeliat ternyata Soeharto lebih keji, karena udah ngelakuin pembunuhan massal dan eksekusi tanpa peradilan yang dilakukan militer. Tentunya tetap ada campur tangan orang asing. Isu yang dimainkan agama dan komunis.

Untuk Pak Jokowi tersayang, sudah saatnya untuk berjuang abis-abisan. 2019 tinggal 2 tahun lagi. Dan ingat, Anies pernah jadi bagian dari anda yang tentunya sangat menguntungkan bagi mereka. Isu agama dan komunis tetap akan mewarnai pertarungan politik Nusantara. Indonesia butuh pemimpin yang kerja nyata dan pro rakyat tanpa bohong atau obral janji. Dan itu tinggal Pak Jokowi seorang harapan kami.

0 comments: